Langsung ke konten utama

Postingan

Somografi, Pedalaman Papua-Perbatasan NKRI

Kampung Somografi, Papua Somografi merupakan salah satu kampung di wilayah Distrik Web, Kebupaten Keerom, Papua. Somografi berbatasan langsung dengan Papua New Guinie, dengan kata lain somografi adalah daerah perbatasan NKRI. Kampung Somografi terletak di kaki gunung, udaranya sejuk dan belum tercemar polusi udara, sebab belum bisa dijangkau dengan menggunakan kendaraan akibat belum adanya akses jalan, agar bisa sampai di kampung somografi bisa melalui jalur darat dengan berjalan kaki selama 6 jam jika cuaca baik, dan bisa sampai 9 jam jika cuaca buruk atau hujan, karena saat hujan jalan pendakian licin dan arus sungai semakin deras. Perjalanan ke Somografi Pada umumnya kampung di Papua dulunya sebuah dusun (istilah yang digunakan masyarakat distrik Web-Papua untuk menyebut lahan kebun di hutan, yang letaknya jauh dari perkampungan) yang awalnya ditempati secara berkala disaat menanam atau musim panen sampai akhirnya menjadi tempat tinggal permanen pemilik kebun yang lam...

Sudut Pandang

Setiap orang sama-sama memiliki dua mata, tapi mengapa mereka memandang satu hal yang sama dengan cara yg berbeda? Apa karena pandangan mereka dipengaruhi oleh apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka pikirkan dipengaruhi oleh pengalaman, pemahaman, dan pengetahuan dari masing-masing individu yang berebeda. Lalu, bisakah manusia memandang dengan murni memandang sesuatu, dan memberikan penilaian bukan berdasarkan apa yang mereka pikirkan, melainkan apa yag mereka lihat? Terlepas dari bisa atau tidak, perbedaan sudut pandang menjadi hal yang sangat menarik untuk diperbincangkan, Berbicara soal sudut pandang, saya jadi teringat satu kisah ibu-ibu pedagang lilin dan ibu-ibu pedagang baju kodian. Siang itu kami menggalang dana kemanusiaan, memegang poster dan membagikan brosur yang berisi duka nestapa pengungsi Rohingya Myanmar, seketika ibu-ibu yang duduk di lantai dengan meja kecil yang diatasnya tergelar beberapa lilin merah, yang ternyata adalah barang dagangannya berkata "kasia...

buried

hai blog!! how are u today? I hope u are good mood, today, I want to tell u something. so u must be great, listening to me, and understading, blog! now, I'm in buried. I dunno what should I do, I dunno where should I go, and don't have any place to talk anymore. that's all I feel now. I'm depress maybe. I want to talk, I need to talk, but I think, its enough.. useless nobody can understood they just listen and silent and there are empathy they can't feel it anymore they cant understand everyone can be a friends but none can be a booster none want and can feel what u feel. so, I dunno anymore I just buried right now

pagi ini

seperti pagi kemarin, saya bangun, langsung buka gadget, baca notification atau email yang masuk. tidak ada pesan yang istimewa, biasa saja. kemudia saya membuka portal berita digital, masih diatas tempat tidur. membaca berita pagi ini, tentang pemerkosaan ayak terhadap anak kandungnya, reaksi cepat SMS Ahok, bakal Cabinet Jokowi-JK, Dan beberapa berita mengenai gadget terbaru pun tidak lupa saya tongkrongi. setelah bosan membaca berita, says masuk ke sosial media, mulai dari BBM, Line, Dan twitter, oh iyya ! saya juga sempat stalking akun istri Pak Anies Baswedan, benakku penasaran dengan sosok wanita hebat yang berada di belakang beliau. setelah itu, saya membuka akun Instagram Dan melihat foto, sesekali menjejali akun orang yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, saya sudah lupa saking banyaknya. selepas itu, 2 jam telah berlalu setelah saya bangun tidur, masih di atas tempat tidur dan bersama gadget tercinta. kebetulan pagi ini saya sedang tidak enak badan. saya mengi...

kita menua

bukankah kita menua dengan mimpi dan cita di hari kemarin, entah itu masih berupa cita dan mimpi atau telah berwujud nyata atau bahkan telah menjadi nestapa. masihkah tekejar mimpi itu, rasanya baru kemarin sore mimpi itu terucap, hari ini, haruskah mimpi itu pergi bersama muda yang telah diganti tua? rasanya baru kemarin sore mimpi itu terasa begitu dekat namun mengapa sampai kita menua, bahkan mimpi itu tak kunjung menghampiri? mungkin sore itu mimpi terucapkan, namun saat menantinya, ia sempat terlupakan terlupakan sejenak, bersama khilaf dan kebahagiaan sesaat yang sesat. kini di saat ingin kembali ke jalan mimpi, entah mengapa terasa begitu terlambat, bukan karena mimpi itu pergi jauh meninggalkan tapi karena langkah ini terlalu jauh melenceng. dulu, andai saja setelah mimpi kemarin sore itu terucap, dan  khilaf tak datang, tak meninggalkan fokus, mungkinkah mimpi itu lebih dekat dan selangkah lagi, kini, saat ini, masih adakah sesinggung mimipi kemarin ...

Fokus Mendidik

sehabis sholat maghrib. saya melihat adek saya khusyuk kembali mengerjakan soal latihan SNMPTN. iseng-iseng saya menghampiri, kasihan, nanti dia merasa tertekan atau terlalu diforsir belajar. nampaknya dia sedang mengerjakan soal matematika. ingatan masa lalu di masa SMA-ku pun kembali. seragam putih abu-abu, soal matematika yang menantang, guru-guru yang menyenangkan, dan teman-teman yang selalu ada. alih-alih, adikku memintaku membantunya mengerjakan soal, dia menantangku, dia tahu aku dan matematika adalah soulmate. soalnya sederhana saja, sungguh ! suasana kelas SMA mengisiku malam itu.aku ingat cara mengerjakan soal itu, hanya saja aku melupakan urutannya. aku kembali ke kamarku mencari buku matematika SMA yang dulu kupakai, berharap aku dapat mengumpulkan septong ingatanku tentang matematika yang telah buram setelah hampir 3 tahun tak pernah tersentuh lagi. tepat! dalam waktu sekejap, aku mengingat rumus persamaan kuadrat untuk menyelesaikan soal itu. ya, aku dulu cukup mahir...

Kejayaan, kembalilah!

Sekarang aku bukan apa-apa. Dulu saja, kejayaanku. Kala SD dulu aku memang tidak pernah jadi pemimpin upacara bahkan pembawa Teks Pancasila pun tak pernah. Tapi, ada satu momen kejayaan yang tak pernah kulupakan ketika naik ke panggung saat acara perpisahan sekolah, sebagai siswa berprestasi. Mendapatkan peringkat kelas. Dan dikelilingi banyak teman. Masa SMP apalagi, menjadi anak kesayangan guru Matematika. Dipuja puji guru IPS karena hasil ulangan mendapat nilai tertinggi. Lalu sekarang? Hm aku hanya seorang mahasiswa biasa yang datang kuliah. Istilahnya rumah-kampus-rumah-kampus. Ini berawal dari SMA, kejayaan ku pun musnah. Aku tak secemerlang dulu. Hanya seorang siswa biasa. Kejayaanku telah musnah. Sekarang aku dalam masa keruntuhan. Ibarat kerajaan, aku adalah raja yang gagal mempertahankan tahta ku. Kulepaskan mahkota kerajaanku dan menjadi rakyat biasa. Rakyat biasa yang haus akan kedudukan. Aku tidak tahu kapan ini dimulai, aku tahu akulah yang salah. Tetapi diman...